Petani Semangka diPidie Jaya Gagal Penen Hingga Hektaran,

Keizalinews.com Pidie Jaya – Hektaran tanaman semangka  terancam gagal panen, pasalnya, hampir seluruhnya tanaman semangka milik petani  Gampong Keurisi Meunasah Lueng, Kecamatan Jangka Buya, kabupaten Pidie Jaya diserang penyakit cacar daun, hingga daun semangka menjadi mengering dan mati. Selasa (8/6/2021).

 

Bacaan Lainnya

Wartawan menemui petani setempat Fahmi mengatakan, Tanaman semangka yang terkena penyakit cacar daun ini berdampak pada buah. Dimana buahnya kecil-kecil dan tidak mau besar lantaran daunnya sudah mengering sehingga gagal panen dan menjadi kerugian petani setempat.

 

” Namun demikian, “Kami sudah berusaha melakukan penyemprotan dengan festisida, tapi penyakit cacar ini sulit dikendalikan,” imbuhnya.

 

 Akibat musim yang tidak menentu, sejumlah petani semangka, tahun ini mengalami kerugian bahkan mencapai 60% persen. Hal itu disebabkan karena faktor cuaca.

 

Selain itu harga semangka sering turun drastis membuat petani kerap rugi, pemerintah diminta menetapkan standar harga untuk membantu mensejahterakan petani.

 

Para petani semangka berharap diperhatikan oleh pemerintah, agar mendapatkan antara lain pupuk bersubsidi. katanya.

 

“Ini tanaman semangka nya kami tanam pada pertengahan bulan puasa kemarin, biasa nya masuk masa panen setelah berumur dua bulan, namun kini tinggal menunggu sekitar lima belas hari lagi, tetapi semangka nya sudah membusuk,” 

 

Maka di perkirakan hampir rata-rata petani Semangka kali ini mengalami kerugian total akibat tak sempat panen buah semangka sudah membusuk, hampir setiap pagi para petani harus memetik semangka yang busuk dan membuang ke saluran. Imbuhnya.

 

Disisi lain, Fahmi menerangkan, Sementara Petani semangka di kecamatan Jangka Buya tidak pernah ada sentuhan bantuan dari Dinas terkait.

 

Petani berharap ada nya perhatian pemerintah setempat maupun pemerintah pusat agar membantu modal penanaman kembali semangka mereka, di karenakan pun selama ini mereka mengaku tak pernah di bantu oleh pemerintah.

 

“Kami hanya butuh modal bibit dan pupuk saja, selama ini kami hanya mengeluarkan modal sendiri sedangkan pemerintah tak pernah memberikan kami bantuan bibit, apalagi selama ini kondisi perekonomian masyarakat petani sedang morat Marit karena imbas dari pada pandemi Covid-19,” terang Fahmi  (Red/Muntadir

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *